Pabrik Baja Tanur Tinggi Dibangun
gototopgototop
 
English (United Kingdom)Indonesian (ID)Chinese (Simplified)
          Instagram   

Quick Selection

News Flash

Indonesia's Gunung cuts reliance on slab imports with new caster
Indonesia’s Gunung Steel Group plans to reduce its dependence on imported slabs through the commissioning of a brand new continuous slab caster by the end of this year.

“Next month we’ll start producing slabs – we’ll be making a trial of 10,000 tonnes,” a company source told Steel First.

“We’ll be able to produce a wide range of slabs and rely less on imports,” he added. 

Read more...

Pabrik Baja Tanur Tinggi Dibangun


E-mail Print PDF
JAKARTA - PT Gunung Gahapi Sakti, anak usaha PT Gunung Garuda, siap merealisasikan pembangunan pabrik baja sistem tanur tinggi (blast furnace) dengan investasi minimal US$200
juta pada April atau Mei tahun ini.
Gunung Gahapi menggandeng Nanjing Iron & Steel Group Co., yang merupakan perusahaan manufaktur asal China. Ada pun, porsi saham masing-masing perusahaan adalah 50%. Meski
begitu, hingga kini, Nanjing belum mendapat persetujuan dari Menteri BUMN China.
Rencananya, pabrik yang dibangun dalam dua tahap tersebut berlokasi di Medan, Sumatra Utara, dengan kapasitas 1 juta ton.
"Sekarang Nanjing sambil mengurus soal kerja sama ini ke Menteri BUMN China. Untuk tahap pertama 500.000 ton dimulai pada April-Mei ini dan mulai produksi pada Agustus-September
2015" kata Komisaris Utama Gunung Gahapi Sakti Djamaluddin Tanoto di Jakarta, Rabu (26/2).
Adapun pada tahap kedua, pembangunannya akan dimulai pada 2017. Nantinya, perusahaan tersebut menggunakan bahan baku berupa iron ore pellet (bijih besi) untuk menghasilkan
produk slab (baja setengah jadi) dan billet. Bahan baku tersebut akan diperoleh dari pasar domestik, di antaranya dari Sumbar dan Aceh.
Adapun produknya bisa digunakan untuk industri kapal dan otomotif. Menurutnya, hasil produksi 50% akan dipasok ke pasar dalam negeri dan 50% ekspor ke Singapura.
Menurut Djamaluddin, Nanjing memilih Gunung Gahapi sebagai partner bisnis lantaran Gunung Gahapi memiliki pangsa pasar baja di Indonesia yang cukup tinggi. Selain itu, saat ini di
China masih ada pembatasan kapasitas produksi baja.
"Kami meminta tax holiday karena investasi kami baru, bukan ekspansi. Selain itu, [ekspansi] juga dilakukan di luar Pulau Jawa. Pabrik akan dibangun di atas area 40 hektare," tambahnya.
Selain itu, kedua pihak, dalam investasi ini, masih menunggu investor lain untuk ikut serta membangun pembagkit listrik. Pabrik ini diperkirakan membutuhkan pembangkit listrik
berkapasitas 2x30 MW. "Investor tersebut nantinya kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)."
Hadir dalam pertemuan dengan Menperin tersebut Executive Directors Nanjing Nangang Iron & Steel United Co., Ltd Koh Wan Chang.
Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan Nanjing masih harus mendapat izin dari Kementerian BUMN China. "Dengan masuknya sejumlah pabrik baja, maka hal tersebut bisa
mengurangi impor bahan baku," katanya. (Riendy Astria)

JAKARTA - PT Gunung Gahapi Sakti, anak usaha PT Gunung Garuda, siap merealisasikan pembangunan pabrik baja sistem tanur tinggi (blast furnace) dengan investasi minimal US$200juta pada April atau Mei tahun ini. Gunung Gahapi menggandeng Nanjing Iron & Steel Group Co., yang merupakan perusahaan manufaktur asal China.

Ada pun, porsi saham masing-masing perusahaan adalah 50%. Meskibegitu, hingga kini, Nanjing belum mendapat persetujuan dari Menteri BUMN China. Rencananya, pabrik yang dibangun dalam dua tahap tersebut berlokasi di Medan, Sumatra Utara, dengan kapasitas 1 juta ton.

"Sekarang Nanjing sambil mengurus soal kerja sama ini ke Menteri BUMN China. Untuk tahap pertama 500.000 ton dimulai pada April-Mei ini dan mulai produksi pada Agustus-September 2015" kata Komisaris Utama Gunung Gahapi Sakti Djamaluddin Tanoto di Jakarta, Rabu (26/2).

Adapun pada tahap kedua, pembangunannya akan dimulai pada 2017. Nantinya, perusahaan tersebut menggunakan bahan baku berupa iron ore pellet (bijih besi) untuk menghasilkan produk slab (baja setengah jadi) dan billet. Bahan baku tersebut akan diperoleh dari pasar domestik, di antaranya dari Sumbar dan Aceh.

Adapun produknya bisa digunakan untuk industri kapal dan otomotif. Menurutnya, hasil produksi 50% akan dipasok ke pasar dalam negeri dan 50% ekspor ke Singapura. Menurut Djamaluddin, Nanjing memilih Gunung Gahapi sebagai partner bisnis lantaran Gunung Gahapi memiliki pangsa pasar baja di Indonesia yang cukup tinggi. Selain itu, saat ini di China masih ada pembatasan kapasitas produksi baja.

"Kami meminta tax holiday karena investasi kami baru, bukan ekspansi. Selain itu, [ekspansi] juga dilakukan di luar Pulau Jawa. Pabrik akan dibangun di atas area 40 hektare," tambahnya. Selain itu, kedua pihak, dalam investasi ini, masih menunggu investor lain untuk ikut serta membangun pembagkit listrik. Pabrik ini diperkirakan membutuhkan pembangkit listrik berkapasitas 2x30 MW. "Investor tersebut nantinya kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

"Hadir dalam pertemuan dengan Menperin tersebut Executive Directors Nanjing Nangang Iron & Steel United Co., Ltd Koh Wan Chang. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan Nanjing masih harus mendapat izin dari Kementerian BUMN China. "Dengan masuknya sejumlah pabrik baja, maka hal tersebut bisa mengurangi impor bahan baku," katanya. (Riendy Astria)

Sumber : www.kemperin.go.id & Bisnis Indonesia

 

Websites Optimised for IE 6+ with 1024 x 768 pixel resolution | © Copyright 2010 - 2016. Gunung Steel Group | Contact Webmaster